BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Geologi Indonesia merupakan salah satu ilmu yang mempelajari
keadaan geologi setiap bagian dari pulau Indonesia. Salah satu keadaan geologi
yang dipelajari adalah pulau Papua. Papua adalah pulau yang berada di timur
wilayah kepulauan Indonesia. Bersama dengan Papua Nugini, pulau ini merupakan
pulau terbesar kedua di dunia, sekaligus merupakan pulau yang mempunyai puncak
tertinggi di Asia Tenggara dan Australia,yaitu Puncak Wijaya(4.884 dpl). Papua
merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber alam sebagai akibat kegiatan
lempengnya yang terus mengalami perkembangan. Geologi Papua merupakan sesuatu
yang kompleks, melibatkan kegiatan interaksi konvergen Lempeng Australia dan
Lempeng Pasifik serta proses pengendapan di masa lalu yang mengalami
perkembangan dan pengangkatan. Kebanyakan evolusi tektonik Cenozoic kepulauan
ini terbentuk sebagai akibat interaksi konvergen tersebut. Papua merupakan pulau
yang kaya akan hutan, luas lahannya sebagian besar wilayahnya merupakan hutan
yang belum dimanfaatkan secara optimal, potensi yang dapat dikembangkan di
daerah ini meliputi berbagai kegiatan seperti kehutanan, pengembangan perkebunan, peternakan, perikanan
darat dan laut, dan pertambangan. Potensi sumbar daya mineral dan energi di
papua antara lain:manyak bumi, emas, tembaga, batubara, dan sejumlah mineral
lainnya. Papua menjadi pengeksport konsentrat terbesar. Salah satu perusahaan
yang terkenal adalah PT. Freeport di kabupaten Tinamika. Provinsi Papua
memiliki kondisi topografi yang sangat bervariasi dari daerah datar hingga
daerah sangat curam. Sebagian besar wilayah Papua termasuk daerah datar dengan
kisaran kemiringan lahan 0 - 8% mencapai luasan ± 16,3 juta hektar (38,6%) dan
diikuti dengan kemiringan lahan 15 – 25% seluas ± 15,0 juta hektar (35,5%) sedangkan,
5,9% dari luas wilayah Papua adalah
daerah agak curam. Untuk itu, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai
struktur geologi pulau Papua dan proses pembentukannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah
geologi pulau Papua?
2. Bagaimana evolusi
tektonik yang ada di pulau Papua?
3. Bagaimana geologi
regional pulau Papua?
4. Bagaimana seting
tektonik pulau Papua?
5. Bagaimana stratigrafi
pulau Papua?
6. Bagaimana gambaran
peta geologi Papua?
7. Bagaimana pengembangan wilayah pulau Papua ?
1.3 Tujuan
Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan
masalah diatas, maka bertujuan untuk :
1.
Mengetahui
sejarah geologi pulau Papua.
2.
Mengetahui
evolusi tektonik yang ada di pulau Papua.
3.
Mengetahui
geologi regional pulau Papua.
4.
Mengetahui
seting tektonik pulau Papua.
5.
Mengetahui
stratigafi pulau Papua.
6.
Mengetahui
gambaran peta geologi Papua.
7.
Mengetahui
pengembangan wilayah pulau irian.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Geologi
Pulau Papua
Papua terletak pada 1˚ - 9˚ LS dan 129˚ - 141˚ BT. Geologi Papua
sangat kompleks melibatkan interaksi antara lempeng Australia dengan lempeng
Pasifik. Hampir seluruh evolusi tektonik Kenozoikum merupakan hasil interaksi
konvergen antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Papua Nugini dan
Pegunungan Central Range merupakan hasil tumbukan antara kontinen dan busur
kepulauan. Pegunungan Central Range terbentuk dari batuan Mesozoikum yang
terlipat dan tersesarkan serta lapisan Kenozoikum yang terendapkan pada batas Kontinental pasif. Di batasi oleh:
a. Utara : Samudra
Pasifik
b. Timur : Sedaratan
Papua Nugini
c. Selatan : Laut Arafuru
d. Barat : Laut Banda
Gambar 1. Peta Geologi Papua yang disederhanakan
Keterangan:
a. Warna Biru :
batu gamping atau dolomite
b. Warna Merah : batuan
beku atau malihan
c. Warna Abu-abu : Sedimen lepas (kerikil, pasir, lanau)
d. Warna Kuning : Sedimen
Padu(tak terbedakan)
Geologi Papua merupakan priode endapan sedimentasi dengan masa
yang panjang pada tepi Utara Kraton Australia yang pasif yang berawal pada
Zaman Karbon sampai Tersier Akhir. Lingkungan pengendapan berfluktuasi dari
lingkungan air tawar, laut dangkal sampai laut dalam dan mengendapkan batuan
klatik kuarsa, termasuk lapisan batuan merah karbonan, dan berbagai batuan
karbonat yang ditutupi oleh Kelompok Batu gamping New Guinea yang berumur
Miosen. Ketebalan urutan sedimentasi ini mencapai 12.000 meter.
Pada Kala Oligosen terjadi aktivitas tektonik besar pertama di
Papua,yang merupakan akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur
kepulauan berumur Eosen pada Lempeng Pasifik. Hal ini menyebabkan deformasi dan
metamorfosa fasies sekis hijau berbutir halus, turbidit karbonan pada sisii
benuamembentuk Jalur Metamorf Rouffae yang dikenal sebagai “Metamorf
Dorewo”Akibat lebih lanjut tektonik ini adalah terjadinya sekresi (penciutan)
LempengPasifik ke tas jalur malihan dan membentuk Jalur Ofiolit Papua.
Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah
OrogenesaMelanesia yang berawal dipertengahan Miosen yang diakibatkan oleh
adanyatumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik.Hal ini
mengakibatkandeformasi dan pengangkatan kuat batuan sedimen Karbon-Miosen (CT),
dan membentuk Jalur Aktif Papua. Kelompok Batugamping New Guinea kini
terletak pada Pegunungan Tengah. Jalur ini dicirikan oleh sistem
yang komplek dengan kemiringan ke arah utara,sesar naik yang mengarah ke
Selatan, lipatan kuat ataurebah dengan kemiringan sayap ke arah selatan
Orogenesa Melanesia inidiperkirakan mencapai puncaknya pada Pliosen Tengah.
Dari pertengahan Miosen sampai Plistosen, cekungan molase
berkembang baik ke Utara maupun Selatan. Erosi yang kuat dalam pembentukan
pegununganmenghasilkan detritus yang diendapkan di cekungan-cekungan sehingga
mencapai ketebalan 3.000 - 12.000 meter.Pemetaan Regional yang dilakukan oleh
PT Freeport, menemukan paling tidak pernah terjadi tiga fase
magmatisme di daerah Pegunungan Tengah. Secara umum,umur magmatisme
diperkirakan berkurang ke arah selatan dari utara dengan polayang dikenali oleh
Davies (1990) di Papua Nugini.
Fase magmatisme tertua terdiri dari terobosan gabroik sampai
dioritik,diperkirakan berumur Oligosen dan terdapat dalam lingkungan Metamorfik
Derewo. Fase kedua magmatisme berupa diorit berkomposisi alkalin terlokalisir
dalam Kelompok Kembelangan pada sisi Selatan Patahan Orogenesa MelanesiaDerewo
yang berumur Miosen Akhir sampai Miosen Awal. Magmatisme termudadan terpenting
berupa instrusi dioritik sampai monzonitik yang dikontrol olehsuatu patahan yang
aktif mulai Pliosen Tengah sampai kini. Batuan-Batuan intrusitersebut menerobos
hingga mencapai Kelompok Batugamping New Guinea, dimanaendapan porphiri Cu-Au
dapat terbentuk seperti Tembagapura dan OK Tedi diPapua Nugini.
Tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik yang terus
berlangsunghingga sekarang menyebabkan deformasi batuan dalam cekungan molase
tersebut.Menurut Smith (1990),sebagai akibat benturan lempeng Australia dan
Pasifik adalah terjadinya penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang kedalam
batuan sedimen diatasnya yang sebelumnya telah mengalami patahan dan
perlipatan. Hasil penerobosan itu selanjutnya mengubah batuan sedimen
danmineralisasi dengan tembaga yang berasosiasi dengan emas dan perak. Tempat
-tempat konsentrasi cebakan logam yang berkadar tinggi diperkiraakan terdapat
padalajur Pegunungan Tengah Papua mulai dari komplek Tembagapura
(Erstberg,Grasberg , DOM, Mata Kucing, dll), Setakwa, Mamoa, Wabu, Komopa,
Dawagu, Mogo Mogo Obano, Katehawa, Haiura, Kemabu, Magoda, Degedai, Gokodimi,
Selatan Dabera, Tiom, Soba-Tagma, Kupai, Etna Paririm Ilaga. Sementara didaerah
Kepala Burung terdapat di Aisijur dan Kali Sute.
2.2 Evolusi
Tektonik Pulau Papua
Teori tektonik lempeng merupakan teori yang dapat menjelaskan
mengenai pergerakan lempeng-lempeng di muka bumi dan
telah diterima umum sebagai teori yang valid dari sebuah teori geologi. Teori
ini menjelaskan bahwa di permukaan bumi ini, terdapat 7
lempeng besar dan lempeng-lempeng (lithosfer) kecil lainnya.
Kesemuanya mempunyai pergerakan aktif dan dinamik
sebagai akibat kegiatan energi di inti bumi. Tiap-tiap lempeng
terdiri dari kerak benua (continental crust) dan kerak
samudera(oceanic crust), yang kesemuanya bergerak relative terhadap
sesamanya. Bagian selatan Pulau Papua merupakan tepi utara
dari benua paling kuno,yaitu Gondwanaland Termasuk
dalam bagian benua ini adalah Benua Antartika, Benua
Australia, India, Amerika Selatan, Selandia baru, dan Kaledonia
Baru. Pembentukan Pulau Papua telah banyak didiskusikan
oleh para ahli geologi dan mendapat perhatian yang
cukup besar karena geologinya yang kompleks tersebut
Pada mulanya pulau Papua merupakan dasar lautan
Pasifik yang paling dalam. Awal terpisahnya benua yang mencakup
Papua di dalamnya(Benua Australia) terjadi pada masa Kretasius
Tengah(kurang lebih 100 juta tahun yang lalu). Lempeng Benua
India-Australia(atau biasa disebut Lempeng Australia) bergerak
ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan
Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat.
Pulau Papua merupakan pulau yang terbentuk dari endapan (sedimentation)
dengan masa yang panjang pada tepi utara kraton Australia
yang pasif dimulai pada Zaman Karbon sampai Tersier
Akhir. Lingkungan pengendapan berfluktuasi dari lingkungan
air tawar, laut dangkal, sampai laut dalam dan mengendapkan batuan
klastik kuarsa, termasuk lapisan batuan klastik karbonat,
dan berbagai batuan karbonat yang ditutupi oleh
Kelompok Batugamping New Guinea berumur Miocen.
Ketebalan urutan sedimentasi ini mencapai lebih dari 12.000 meter.
Selain itu, Papua juga terbentuk
berdasarkan pertumbukan yang dihasilkan dari interaksi konvergen
kedua lempeng yaitu Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia,
dijelaskan bahwa Lempeng Pasifik mengalami subduksi sehingga lempeng
ini berada di bawah Lempeng Australia. Pada saat
dimulainya gerakan ke utara dan rotasi dari benua super ini, seluruh
Papua dan Australia bagian utara berada
di bawah permukaan laut. Bagian daratan paling
Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta
tahun lalu berada pada 480Lintang Selatan yang
merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Ketika Lempeng
India-Australia dan Lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun
lalu, Pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada
sekitar 350 Lintang Selatan, dengan kata lain dapat
dijelaskan bahwa subduksi antara ke-2 lempeng tersebut telah
menyebabkan endapan Benua Australia terangkat sehingga memunculkan Pulau Papua.
Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga Pulau Papua
terbentuk seperti sekarang ini. Proses pengangkatan
ini berdasarkan skala waktu geologi, kecepatannya adalah
2,5km per juta tahun.
Apabila
dijabarkan berdasarkan periode-periodenya, maka aktivitas
tektonik penting yang menjadi cikal bakal Papua saat ini
terjadi melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Pada Kala Oligosen
terjadi pergerakan tektonik besar pertama di Papua,yang
merupakan akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur
kepulauan berumur Eosen pada Lempeng Pasifik. Hal ini
menyebabkan deformasi dan metamorfosa fasies sekis hijau berbutir halus
dan turbidit karbonat pada sisi benua sehingga membentuk Jalur
“Metamorf Rouffae yang dikenal sebagai “Metamorf Dorewo".
Akibat lebih lanjut dari aktivitas tektonik ini adalah terjadinya sekresi(
penciutan) Lempeng Pasifik ke atas jalur malihan dan membentuk Jalur
Ofiolit Papua.
2.
Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia yang dimulai pada pertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat dari batuan sedimen Karbon-Miosen(CT) dan membentuk Jalur Aktif Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia yang dimulai pada pertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat dari batuan sedimen Karbon-Miosen(CT) dan membentuk Jalur Aktif.
Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia yang dimulai pada pertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat dari batuan sedimen Karbon-Miosen(CT) dan membentuk Jalur Aktif Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia yang dimulai pada pertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat dari batuan sedimen Karbon-Miosen(CT) dan membentuk Jalur Aktif.
Gambar 2. Periode terbentuknya Pulau Papua
Proses konvergen antar lempeng juga mengakibatkan
terbentuknya pegunungan di Papua. Pegunungan tersebut adalah Pegunungan
Jayawijaya yang memiliki Puncak Jaya sebagai puncak tertinggi di
Asia Tenggara dan Australia dengan ketinggian 4.884 mdpl. Pada pegunungan
ini ditemukan fosil hewan laut yang sekaligus
merupakan bukti bahwa Papua dahulu merupakan
dasar lautan yang mengalami pengangkatan. Puncak Wijaya
mempunyai salju yang diyakini sebagai salju abadi.
Gambar 3. Puncak Wijaya yang memiliki salju abadi
Gambar 4. Garis batas antara Lempeng Sunda dan Sahul
2.3 Geologi Regional Papua
Peristiwa-peristiwa geologi di Papua telah banyak
diteliti dan dipelajari oleh para ahli geologi.
Pelopor penelitian adalahVisser dan Hermes(1962), sejak
itu pulau ini menjadi pusat perhatian bagi para
ahli geologi, geofisika maupun ahli eksplorasi.Para ilmuwan yang meneliti pulau
ini umumnya berpendapat bahwa orogenesis (pengangkatan) pada
kala Oligosen adalah awal mulainya proses tektonik di
Papua hingga terbentuk fisiografi yang terlihat pada masa sekarang
ini dan lazim dikenal sebagai Orogen Melanesia.Orogenesis ini menghasilkan 3
mandala geologi, sehingga Dow et al.(1986), membagi geologi Papua menjadi 3
lajur berdasarkan stratigrafi, magmatik dan tektoniknya, yaitu :
1. Kawasan Samudera Utara
yang dicirikan oleh ofiolit dan busur vulkanik kepulauan(Oceanic
Province) sebagai bagian dari Lempeng Pasifik.Batuan-batuan
ofiolit pada umumnya tersingkap di sayap utara Pengunungan Tengah
Papua dan Papua Nugini.
2. Kawasan Samudera Utara yang
dicirikan oleh ofiolit dan busur vulkanik kepulauan(Oceanic
Province) sebagai bagian dari Lempeng Pasifik. Batuan-batuan
ofiolit pada umumnya tersingkap di sayap utara Pengunungan Tengah
Papua dan Papua Nugini.
3. Lajur peralihan yang
terdiri atas batuan termalihkan(metamorf) dan terdeformasi sangat
kuat secara regional. Lajur ini terletak di tengah (central range)
dan memisahkan kelompok 1 dengan kelompok 2
dengan batas-batas sesar-sesar sungkup dan geser.
Dow et al.(2005), juga menjelaskan ciri dominan
dari perkembangan geologi Papua merupakan transformasi antara sejarah
tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan Lempeng Pasifik di
satu sisi, dan periode tektonik yang berlanjut dari zona
deformasi di sisi lainnya( New Guinea Mobile Belt). Dari paparan di
sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface)
di sebelah Selatan, serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga
saat ini menunjukkan, bahwa batuan dari kraton
Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh
sedimentasi palung(shelf sedimentation). Hanya sebagian kecil yang
dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga
Tersier Akhir. Batuan Lempeng Pasifik yang terpaparkan di
Papua berumur lebih muda. Terlepas dari batuan mantel
sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa
kerak Samudera Jurasik, Lempeng Pasifik ini terdiri atas vulkanik busur
kepulauan dan subordinat kerak
samudera berumur Palaeogen.
Sedangkan pembagian geologi Papua hanya berdasarkan tektoniknya Davies et al.(1996) dalam Evolution of the Papuan Basin dapat dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 5. Pembagian geologi Papua menjadi 3 provinsi
tektonik : SW atau southwest cratonic zone, C atau central
collisional zone atau zona tubrukan tengah NE atau northeastern
islands dan jajaran yang terbentuk akibat aktivitas volkanik
Cainozoic.
2.4Seting Tektonik Papua
Geologi di wilayah ini sangat kompleks karena kawasan ini
terbentuk dari dua interaksi lempeng yaitu lempeng Australia dan lempeng
pasifik sehingga menghasilkan bentukan yang khas. Dan periode pembentukannya
lebih dikenal dengan Orogenesa Melanesia. Orogenesa ini mengakibatkan pola
struktur irian jaya menjadi sangat rumit dan khas. Secara keseluruhan unsur ini
diakibatkan oleh gaya pemampatan berarah barat daya-timur laut, searah dengan
tumbukan Dow, drr (1984).
Ada dua bagian kerak utama yang terlibat di Irian Jaya yaitu
kraton australia dan kerak pasifik. Yang pertama adalah mantap dan menjadi
dasar bagian selatan, sedangkan yang kedua merupakan alas pantai utara
(termasuk teluk cendarwasih, dow, drr, 1982)(gb.1). daerah badan burung
merupakan jalur memanjang dari timur ke barat yang telah mengalami pelipatan.
Jalur ini disebut sesar naik pegunungan tengah (JSNPT).
Seting tektonik Papua telah mendapatkan banyak perhatian dari beberapa ahli geologi seperti Dow dkk(1985), Smith(1990) dan Mark Closs(1990). Ulasan dari ahli-ahli ini dapat dijadikan sebagai kerangka dalam menerangkan posisi dan sejarah tektonik Papua. Konfigurasi tektonik Pulau Papua pada saat ini berada pada bagian tepi utara Lempeng Australia, yang berkembang akibat adanya pertemuan antara Lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat. Dua lempeng utama ini mempunyai sejarah evolusi yang diidentifikasi berkaitan erat dengan perkembangan proses magmatik dan pembentukan busur gunung api yang berasoisasi dengan mineralisasi emas phorpir dan emas epithermal.
Gambar
5.Seting Tektonik Papua
Keterangan:
MTFB= Mamberamo Thrust and Fold Belt
WO =Weyland Overthrust
WT=Waipona Trough
TAFZ =Tarera-Aiduna Fault Zone
RFZ = Ransiki Fault Zone
LFB=Lengguru Fault Belt
SFZ =Sorong Fault Zone
YFZ =Yapen Fault Zone
MO =Misool-Onin High
Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara
Lempeng Pasifik dan Australia.
Zona deformasi
yang berada di sebelah Timur adalah bagian
dari NewGuinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan
merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan Lempeng Pasifik.
Walaupun pencatatannya terpisah-pisah,
terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari
tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen
maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan, Triasik, Kretasius, dan Miosen
Pertengahan. Akan tetapi,sebaran paling luas dari aktivitas tektonik
dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga
sekarang ini yang disebut Melanesian Orogeny(Dow and Sukamto, 1984).
Dari gambar di atas
diketahui bahwa wilayah Papua sangat berpotensi terhadap
terjadinya gempa tektonik maupun tsunami. Terdapat sejumlah lipatan (folding)
maupun sesar naik sebagai akibat dari interaksi konvergen
lempeng-lempeng bersangkutan, seperti Sesar Sorong, Sesar Ransiki,
dan Sesar Lungguru. Fakta menunjukkan bahwa akhir-akhir ini Papua kerap
digoncang gempa, bahkan pada saat terjadi gempa dan
tsunami yang menimpa Jepang beberapa waktu lalu, Papua juga
ikut merasakan getaran gempa.
a. Periode Oligosen sampai
Pertengahan Miosen (35-5 JT)
Pada bagian belakang busur Lempeng kontinental Australia terjadi
pemekaran yang mengontrol proses sedimentasi dari Kelompok Batugamping New
Guinea selama Oligosen Awal Miosen dan pergerakan lempeng ke arah utara
berlangsung cepat dan menerus.
Pada bagian tepi utara Lempeng Samudera Solomon terjadi aktivitas
penunjaman, membentuk perkembangan Busur Melanesia pada bagian dasar kerak
samudera selama periode 44 – 24 Juta Tahun yang lampau (JTL). Kejadian ini
seiring kedudukannya dengan komplek intrusi yang terjadi paDa Oligosen Awal
Miosen seperti yang terjadi di Kepatusan Bacan, Komplek Porphir West Delta Kali
Sute di Kepala Burung Papua. Selanjutnya pada Pertengahan Miosen terjadi
pembentukan ophiolit pada bagian tepi selatan Lempeng Samudera Solomon dan pada
bagian utara dan Timur Laut Lempeng Australia. Kejadian ini membentuk Sabuk
Ofiolit Papua dan pada bagian kepala Burung Papua diekspresikan oleh adanya
Formasi Tamrau.
Pada Akhir Miosen terjadi aktivitas penunjaman pada Lempeng
Samudera Solomon ke arah utara, membentuk Busur Melanesia dan ke arah selatan
masuk ke lempeng Australia membentuk busur Kontinen Calc Alkali Moon Utawa dan
busur Maramuni di New Guinea.
b.
Periode Miosen Akhir Sampai Plistosen (15 – 2 JTL)
Mulai dari Miosen Tengah bagian tepi utara Lempeng Australia di
New Guinea sangat dipengerahui oleh karakteristik penunjaman dari Lempeng
Solomon. Pelelehan sebagian ini mengakibatkan pembentukan Busur Maramuni dan
Moon-Utawa yang diperkirakan berusia 18 – 7 Juta Tahun. Busur Vulkanik Moon ini
merupakan tempat terjadinya prospek emas sulfida ephitermal dan logam dasar
seperti di daerah Apha dan Unigolf, sedangkan Maramuni di utara, Lempeng
Samudera Solomon menunjam terus di bawah Busur Melanesia mengakibatkan adanya
penciutan ukuran selama Miosen Akhir.
Pada 10 juta tahun yang lalu, pergerakan lempeng Australia terus
berlanjut dan pengrusakan pada Lempeng Samudra Solomon terus berlangsung
mengakibatkan tumbukan di perbatasan bagian utara dengan Busur Melanesia. Busur
tersebut terdiri dari gundukan tebal busur kepulauan Gunung Api dan sedimen
depan busur membentuk bagian Landasan Sayap Miosen seperti yang diekspresikan
oleh Gunung Api Mandi di Blok Tosem dan Gunung Api Batanta dan Blok Arfak.
Pasca tumbukan gerakan mengiri searah kemiringan ditafsirkan
terjadi sepanjang Sorong, Yapen, Bintuni dan Zona Patahan Aiduna, membentuk
kerangka tektonik di daerah Kepala Burung. Hal ini diakibatkan oleh pergerakan
mencukur dari kepala tepi utara dari Lempeng Australia. Kejadian yang
berasosiasi dengan tumbukan busur Melanesia ini menggambarkan bahwa pada Akhir
Miosen usia bagian barat lebih muda dibanding dengan bagian timur. Intensitas
perubahan ke arah kemiringan tumbukan semakin bertambah ke arah timur. Akibat
tumbukan tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di bagian
cekunganpaparan di bagian selatan dan mengarahkan mekanisme perkembangan Jalur
Sesar Naik Papua. Zona Selatan tumbukan yang berasosiasi dengan sesar searah
kemiringan konvergensi antara pergerakan ke utara lempeng Australia dan
pergerakan ke barat lempeng Pasifik mengakibatkan terjadinya resultante NE-SW
tekanan deformasi. Hal itu mengakibatkan pergerakan evolusi tektonik Papua
cenderung ke arah Utara – Barat sampai sekarang.
Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa
pengangkatan yang diakibatkan oleh tumbukan dari busur kepulauan Melanesia. Hal
ini digambarkan oleh irisan stratigrafi di bagian mulai dari batuan dasar yang
ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Australia yang membentuk
Jalur Sesar Naik Papua. Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini dibatasi
oleh batuan metamorf dan teras ophilite yang menandai kejadian pada Miosen
Awal. Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh adanya batuan
dasar Precambrian yang terpotong di sepanjang jalur Sesar Naik. Jejak mineral
apatit memberikan gambaran bahwa terjadi peristiwa pengangkatan dan peruntuhan
secara cepat pada 4 – 3,5 juta tahun yang lalu (Weyland, 1993). Selama Pliosen (7 – 1 juta tahun yang lalu)
Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe magma I suatu tipe magma yang kaya
akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi sumber mineralisasi Cu-Au yang
bernilai ekonomi di Ersberg dan Okeitadi.
Selama pliosen (3,5 – 2,5 JTL) intrusi pada zona tektonik
dispersi di kepala burung terjadi pada bagian pemekaran sepanjang batas graben.
Batas graben ini terbentuk sebagai respon dari peningkatan beban tektonik di
bagian tepi utara lempeng Australia yang diakibatkan oleh adanya pelenturan dan
pengangkatan dari bagian depan cekungan sedimen yang menutupi landasan dari
Blok Kemum.
Menurut (Smith 1990),
Sebagai akibat benturan lempeng Australia dan Pasifik adalah terjadinya
penerobosan batuan beku dengan komposisi sedang kedalam batuan sedimen
diatasnya yang sebelumnya telah mengalami patahan dan perlipatan. Hasil
penerobosan itu selanjutnya mengubah batuan sedimen dan mineralisasi dengan
tembaga yang berasosiasi dengan emas dan perak. Tempat – tempat konsentrasi
cebakan logam yang berkadar tinggi diperkiraakan terdapat pada lajur Pegunungan
Tengah Papua mulai dari komplek Tembagapura (Erstberg, Grasberg , DOM, Mata
Kucing, dll), Setakwa, Mamoa, Wabu, Komopa – Dawagu, Mogo-Mogo Obano, Katehawa,
Haiura, Kemabu, Magoda, Degedai, Gokodimi, Selatan Dabera, Tiom, Soba-Tagma,
Kupai, Etna Paririm Ilaga.
Sementara itu dengan adanya busur kepulauan gunungapi (Awewa
Volkanik Group) yang terdiri dari :Waigeo Island (F.Rumai) Batanta Island
(F.Batanta), Utara Kepala Burung (Mandi & Arfak Volc), Yapen Island (Yapen
Volc), Wayland Overhrust (Topo Volc), memungkinkan terdapatnya logam emas.
2.5Stratigrafi Papua
Geologi Irian Jaya secara garis besar dibedakan ke dalam tiga
kelompok batuan penyusan utama yaitu: (a) batuan kraton Australia; (b) batuan
lempeng pasifik; dan (c) batuan campuran dari kedua lempeng. Litologi yang
terakhir ini batuan bentukan dari orogenesa Melanesia. Batuan yang berasal dari
kraton Australia terutama tersusun oleh batuan alas, batuan malihan berderajat
rendah dan tinggi sebagian telah diintrusi oleh batuan granit di sebelah barat,
batuan ini berumur palaezoikum akhir, secara selaras ditindih oleh sedimen
paparan mesozoikum dan batuan sedimen yang lebih muda , batuan vulkanik dan
batuan malihan hingga tersier akhir. (dow, drr,1985). Singkapan yang baik dan
menerus dapat diamati sepanjang daerah batas tepi. Utara dan pegunungan tengah.
Batuan lempeng pasifik umumnya lebih muda dan tersusun terutama
oleh batuan ultrabasa, tuf berbutir halus dan batuan sedimen laut dalam yang
diduga berumur jura batuan mesozoikum lainnya yang berasal dari kerak samudera
seperti batuan ultramafik (kompleks ofiolit) dan batuan plutonik berkomposisi mafik.
Kelompok batuan ini tersungkupkan dan terakrasikan di atas kerak kontinen
Australia karena bertumbukan dengan lempeng pasifik. Keadaan ini membentuk pola
pegunungan kasar di daerah pegunungan tengah bagian utara. Jalur ofiolit
membantang kearah timur barat sejauh 400 km dan lebih dari 50 km . Stratigrafi
wilayah Papua terdiri atas:
1. Paleozoic Basement (Pre-Kambium Paleozoicum)
Di daerah Badan Burung atau sekitar Pegunungan Tengah tersingkap
Formasi Awigatoh sebagai batuan tertua di Papua yang berumur pre-Kambium.
Formasi ini juga disebut Formasi Nerewip oleh
Parris(1994) di dalam lembar Peta Timika.Formasi ini terdiri dari batuan
metabasalt, metavulkanik dengan sebagian kecil batugamping, batu
serpih dan batu lempung. Formasi Awigatoh ini ditindih secara tidak
selaras oleh Formasi Kariem. Formasi Kariem sendiri tersusun
oleh perulangan batupasir kuarsa berbutir
halus dengan batu serpih dan batu lempung. Umur formasi
ini diperkirakan sekitar Awal Paleozoikum atau pre-Kambrium yang
didasarkan pada posisi stratigrafinya yang berada di bawah Formasi Modio yang
berumum ilur Devon. Penentuan umur Formasi Modia dilakukan dengan metode fision
track dari mineral zirkon yaitu 650juta tahun yang lalu (Quarles van
Ufford,1996).
Didaerah Gunung Bijih Mining Access (GBMA) dijumpai singkapan
Formasi Kariem yang ditutupi secara disconformable oleh Formasi Tuaba. Formasi
Tuaba tersusun oleh batupasir kuarsa berlapis sedang dengan sisipan konglomerat
dan batuserpih yang diperkirakan berumur Awal Paleozoikum atau pre-Kambrium.
Selanjutnya di atas Formasi Tuaba dijumpai Formasi Modio yang
dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian bawah Anggota A yang didominasi
oleh batuan karbonat yaitu stromatolitik dolostone berlapis baik. Sedangkan
dibagian atasnya ditempati oleh Anggota B yang terdiri dari batupasir berbutir
halus dengan internal struktur seperti planar dan silang siur, serta laminasi
sejajar. Umur formasi ini ditentukan berdasarkan kandungan koral dan fission
track yang menghasilkan Silur-Devon. Kontak formasi ini dengan Formasi Aiduna
yang terletak di atasnya ditafsirkan sebagai kantak disconformable
(Ufford, 1996).
Formasi Aiduna dicirikan oleh batuan silisiklastik berlapis baik
dengan sisipan batubara, dan ditafsirkan sebagai endapan fluvial sampai
lingkungan delta, dan secara stratigrafi formasi ini ditindih secara selaras
oleh Formasi Tipuma. Umur formasi ini ditentukan berdasarkan kandungan fosil
brachiopoda yaitu Perm.
Di daerah Kepala Burung atau Salawati-Bintuni, batuan dasar yang
berumur Paleozoikum terutama tersingkap di sebelah timur kepala Burung yang
dikenal sebagai Tinggian Kemum, serta disekitar Gunung Bijih Mining Access
(GBMA) yaitu di sebelah barat daya Pegunungan Tengah. Batuan dasar tersebut
disebut Formasi Kemum yang tersusun oleh batusabak, filit dan kuarsit. Formasi
ini di sekitar Kepala Burung dintrusi oleh bitit Granit yang berumur Karbon
yang disebut sebagai Anggi Granit pada Trias. Oleh sebab itu Formasi Kemum
ditafsirkan terbentuk pada sekitar Devon sampai Awal Karbon (Pigram dkk, 1982).
Selanjutnya Formasi Kemum ditindih secara tidak selaras oleh
Group Aifam. Di sekitar Kepala Burung group ini dibagi menjadi 3 Formasi yaitu
Formasi Aimau, Aifat dan Ainim. Group ini terdiri dari suatu seri batuan
sedimen yang taktermalihkan dan terbentuk di lingkungan laut dangkal sampai
fluvio-delataik. Satuan ini di daerah Bintuni ditutupi secara tidak selaras
oleh Formasi Tipuma yang berumur Trias (Bintoro & Luthfi, 1999).
2. Sedimentasi
Mesozoikum hingga Senosoik
a)
Formasi Tipuma
Formasi Tipuma tersebar luas di Papua, mulai dari Papua Barat
hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. Formasi ini dicirikan
oleh batuan berwarna merah terang dengan
sedikit bercak hijau muda. Formasi ini terdiri dari batu
lempung dan batupasir kasar sampai halus yang berwarna abu-abu
kehijauan dengan ketebalan sekitar 550 meter. Umur formasi ini diperkirakan
sekitar Trias Tengah sampai Atas dan diendapkan di lingkungan supratidal.
b)Formasi
Kelompok Kembelangan
Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat
hingga Arafura Platform. Bagian atas dari kelompok ini
disebut formasi Jass. Kelompok Kembelangan terdiri atas
lapis batu debu dan batu lumpur karboniferus pada
lapisan bawah batu pasir kuarsa
glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. Kelompok
ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan
Gamping New Guinea atau New GuineaLimestone Group( NGLG).
c) Formasi
Batu Gamping New Guinea
Selama masa Cenozoik, kurang
lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik,
Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan(deposisi)
karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea(
NGLG). Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri
atas empat formasi, yaitu(1). Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen;(2). Formasi
Fumai Eosen;(3) Formasi Sirga Eosin Awal;(3). Formasi Imskin; dan(4). Formasi
Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen.
3. Sedimentasi Senosoik Akhir
Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental
Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya
berkilometer, berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. Di
Papua dikenal 3(tiga) formasi utama, dua di antaranya dijumpai di Papua Barat,
yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut
dijumpai di Cekungan Salawati dan Bintuni.
4. Kenozoikum
Grup Batu gamping New Guinea, Grup ini dibagi menjadi 4 formasi
dari tua ke muada adalah sebagai berikut : Formasi Waripi, Formasi Faumai,
Formasi Sirga dan Formasi Kais.
Formasi Waripi terutama tersusun oleh karbonat dolomitik, dan
batupsir kuarsa diendapkan di lingkungan laut dangkal yang berumur Paleosen
sampai Eosen. Di atas formasi ini diendapkan Formasi Faumai secara selaras dan
terdiri dari batugamping berlapis tebal (sampai 15 meter) yang kaya fosil
foraminifera, batugamping lanauan dan perlapisan batupasir kuarasa dengan
ketebalan sampai 5 meter, tebal seluruh formasi ini sekitar 500 meter.
Formasi Faumai terletak secara selaras di atas Formasi Waripi
yang juga merupakan sedimen yang diendapkan di lingkungan laut dangkal. Formasi
ini terdiri dari batuan karbonat berbutir halus atau kalsilutit dan kaya akan
fosil foraminifera (miliolid) yang menunjukkan umur Eosen.
Formasi sirga dijumpai terletak secara selaras di atas Formasi
Faumai, terdiri dari batupasir kuarsa berbutir kasar sampai sedang mengnadung
fosil foraminifera, dan batuserpih yang setempat kerikilan. Formasi Sirga
ditafsirkan sebagai endapan fluvial sampai laut dangkal dan berumur Oligosen
Awal.
Formasi Kais terletak secara selaras di atas Formasi Sirga.
Formasi Kais terutama tersusun oleh batugamping yang kaya foraminifera yang
berselingan dengan lanau, batuserpih karbonatan dan batubara. Umur formasi ini
berkisar antara Awal Miosen sampai Pertengahan Miosen dengan ketebalan sekitar
400 sampai 500 meter.
5. Miosen sampai Recent
Pada Miosen sampai recent, di Papua dijumpai adanya 3 formasi
yang dikenal sebagai Formasi Klasaman, Steenkool dan Buru yang hampir seumur
dan mempunyai kesamaan litologi, yaitu batuan silisiklastik dengan ketebalan
sekitar 1000 meter. Ketiga formasi tersebut di atas mempunyai hubungan menjari,
Namun Formasi Buru yang dijumpai di daerah Badan Bururng pada bagian bawahnya
menjemari dengan Formasi Klasafat. Formasi Klasafat yang berumur Mio-Pliosen
dan terdiri dari batupasir lempungan dan batulanau secara selaras ditindih oleh
Formasi Klasaman dan Steenkool.Endapan aluvial dijumpai terutama di sekitar
sungai besar sebagai endapan bajir, terutama terdiri dari bongkah, kerakal,
kerikil, pasir dan lempung dari rombakan batuan yang lebih tua.
6. Stratigrafi
Lempeng Pasifik
Pada umumnya batuan Lempeng Pasifik terdiri
atas batuan asal penutup (mantle derived rock), island-arc
volcanis dan sedimen laut dangkal. Di Papua, batuan
asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk
Ophiolite Papua, Pegunungan Cycloop, Pulau Waigeo, Utara Pegunungan Gauttier
dan sepanjang zona sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk
oleh batuan ultramafik, plutonil basik, dan
mutu-tinggi metamorfik. Sedimen dalam Lempeng Pasifik dicirikan pula oleh
karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. Satuan
ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo, Biak, Pulau Yapen
dan Pegunungan Cycloop. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal
hingga Pliosen.
7. Stratigrafi
Zona Transisi
Konvergensi
antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zona
deformasi. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zona
transisi atau peralihan, yang terutama terdiri
atas batuan metamorfik. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk
kontinyu(>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea.
2.6
Gambaran Peta Geologi Pulau Papua
a. Irian jaya bagian timur
1)
Jalur Sesar Naik New Guinea (JSNNG)(JSNNG)
Jalur Sesar Naik New Guinea merupakan jalur lasak irian
(jalasir) yang sangat luas, terutama di daerah tengah-selatan badan burung.
Jalur ini melintasi seluruh zona yang ada di daerah sebelah timur New Guinea
yang menerus kearah barat dan dikenal sebagai jalur sesar naik pegunungan
tengah (JSNPT). Zona JSNNG-JSNPT merupakan zona interaksi antara lempeng
Australia dan pasifik. Lebih dari setengah bagian selatan New guinea ini
dialasi oleh batuan yang tak terdeformasikan dari kerak benua. Zone JSNPT, di
utara dibatasi oleh sesar yapen, sesar sungkup mamberamo. Batas tepi barat oleh
sesar benawi torricelli dan di selatan oleh sesar naik foreland. Sesar terakhir
yang membatasi JSSNG ini diduga aktif sebelum orogen melanesia.
2) Jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT)
JSNPT merupakan jalur sesar sungkup yang berarah timur-barat
dengan panjang 100 km, menempati daerah pegunungan tengah Irian Jaya.
Batuannnya dicirikan oleh kerak benua yang terdeformasikan sangat kuat. Sesar
sungkup telah menyeret batuan alas yang berumur perm, batuan penutup berumur
mesozoikum dan batuan sedimen laut dangkal yang berumur tersier awal ke arah
selatan. Di beberapa tempat kelompok batuan ini terlipat kuat. Satuan litologi
yang paling dominan di JSNPT ialah batu gamping new guinea dengan ketebalan
mencapai 2000 m.
Sesar sungkup JSNPT dihasilkan oleh gaya pemampatan yang sangat
intensif dan kuat dengan komponen utama berasal dari arah utara. Gaya ini juga
menghasilkan beberapa jenis antiklin dengan kemiringan curam bahkan sampai mengalami
pembalikan (overtuning). Proses ini juga menghasilkan sesar balik yang bersudut
lebar (reserve fault). Penebalan batuan kerak yang diduga terbentuk pada awal
pliosen ini memodifikasi bentuk daerah JSNPT. Periode ini juga menandai kerak
yang bergerak ke arah utara.membentuk sesar sungkup. Mamberamo (the mamberamo
thrust belt) dan mengawali alih tempat gautier (the gautier offset).
3) Jalur sesar naik Mamberamo
Jalur sesar ini memanjang 100 km ke arah selatan dan terdiri
dari sesar anak dan sesar geser (shear) sehingga menyesarkan batuan plioesten
formasi mamberamo dan batuan kerak pasifik yang ada di bawahnya. (gb. 3).
William, drr (1984) mengenali daerah luas dengan pola struktur tak teratur. Di
sepanjang jalur sesar sungkup dijumpai intrusi poton-poton batuan serpih (shale
diapirs) dengan radius seluas 50 km, hal ini menandakan zona lemah (sesar).
Poton-poton lumpur ini biasanya mempunyai garis tengah beberapa kilometer,
umumnya terdiri dari lempung terkersikkan dan komponen batuan tak terpilahkan
dengan besar ukuran fragmen beberapa milimeter hingga ratusan meter. Sekarang
poton lumpur ini masih aktif dan membentuk teras-teras sungai.
b. Irian jaya barat
1. Zona
sesar sorong
Batas lempeng pasifik yang terdapat di Irian Jaya barat berupa
sesar mengiri yang dikenal dengan sistem sesar Sorong-Yapen (gambar). Zona
sesar ini lebarnya 15 km dengan pergeseran diperkirakan mencapai 500 km (dow,
drr.,1985). Sesar ini dicirikan oleh potongan-potongan sesar yang tidak
teratur, dan dijumpai adanya bongkahan beberapa jenis litologi yang setempat
dikenali sebagai batuan bancuh. Zona sesar ini di sebelah selatan dibatasi oleh
kerak kontinen tinggian kemum dan sedimen cekungan selawati yang juga menindih
kerak di bagian barat. Di utara sesar geser ini ditutupi oleh laut, tetapi di
pantai utara menunjukkan harga anomali positif tinggi.
Hal ini menandakan bahwa dasar laut ini dibentuk oleh batuan
kerak samudera. lima kilometer kearah barat daya batuan kerak pasifik
tersingkap di pulau Batanta, terdiri dari lava bawah laut dan batuan gunung api
busur kepulauan.
Perederan beberapa ratus kilometer dari zona sesar Sorong-Yapen
pertama kali dikenal oleh Visser Hermes (1962) adalah sesar mengiri dan
berlangsung sejak Miosen Tengah. Kejadian ini didukung oleh bergesernya anggota
batu serpih formasi Tamrau berumur Jura-Kapur yang telah terseret sejauh 260 km
dari tempat semula yang ada disebelah timurnya (lihat pergeseran sesar Wandamen
dibagian Timur) dan hadirnya blok batuan vulkanik alih tempat (allochtonous)
yang berumur Miosen Tengah sejauh 140 km di daerah batas barat laut Pulau
Salawati (Visser & Hermes, 1962).
2. Zona Sesar
Wandamen
Sesar Wandamen (Dow,1984) merupakan kelanjutan dari belokan
Sesar Ransiki ke Utara dan membentuk batas tepi timur laut daerah kepala burung
memanjang ke Barat daya pantai sasera, dan dari zona kompleks sesar yang
sajajar dengan leher burung. Geologi daerah Zona Sesar Wandamen terdiri dari
batuan alas berumur Paleozoikum Awal, batuan penutup paparan dan batuan
sediment yang berasal dari lereng benua. Kelompok ini dipisahkan oleh zona
dislokasi dengan lebar sampai ratusan kilometer, terdiri dari sesar-sesar
sangat curam dan zona perlipatan isoklinal.
Perubahan zona arah sesar Wandamen dari Tenggara ke Timur di
tandai bergabungnya sesar-sesar tersebut dengan sesar Sungkup Weyland.
Timbulnya alih tempat (allochtonous) yang tidak luas tersusun oleh batuan
sedimen mezozoic. Diatas satuan ini diendapkan kelompok batu gamping New
Guenia. Jalur sesar Wandamen dan Sesar Sungkup lainya di zona ini merupakan
bagian dari barat laut JSNPT.
3. Jalur Lipatan
Lengguru (Lengguru Fold Belt)
Jalur Lipatan lengguru (JLL) adalah merupakan daerah
bertopografi relative rendah jarang yang mencapai ketinggian 1000 m di atas
muka laut. Daerah ini dicirikan oleh pegunungan dengan jurus yang memenjang
hingga mencapai 50 km, batuanya tersusun oleh batu gamping New Guenia yang
resistan. Jalur lipatan ini menempati daerah segitiga leher burung dengan
panjang 3000 km dan lebar 100 km dibagian paling selatan dan lebar 30 km
dibagian utara. Termasuk di daerah ini adalah batuan paparan sediment klastik
Mesozoikum yang secara selaras ditindih oleh batu gamping New Guenia (Kapur
awal miosen). Batuan penutup ini telah mengalami penutupan dan tersesar kuat.
Pengerutan atau lebih dikenal dengan thin skin deformation berarah barat laut
dan hampir searah dengan posisi leher burung. Intensitas perlipatan tersebut
cenderung melemah kea rah utara zona perlipatan dan meningkat kearah timur laut
yang berbatasan dengan zona.
4. Sesar
Wandemen (Dow, drr.,1984)
JLL adalah thin slab kerak benua yang telah tersungkup-sungkup
kan kearah barat daya diatas kerak benua Kepala Burung (Subduksi menyusut =
oblique subduction). Jalur ini telah mengalami rotasi searah jarum jam (antara 75-80).
Porsi bagian tengah dari JLL ini terlipat kuat sehingga menimbulkan pengerutan.
Dow drr (1985) menyarankan pengkerutan kerak (crustal shortening) ini sebesar
40-60 km. diperkirakan proses pemendekan tersebut masih berlangsung hingga
sekarang. Jalur JLL di sebelah timur dibatasi oleh Sesar Wandamen di selatan
oleh sesar Tarera Aiduna dan dibagian barat oleh sesaar aguni. Hal ini dapat
menutup kemungkinan bahwa jalur JLL merupakan perangkap hidrokarbon jenis
struktur yang melibatkan batuan alas akibat gaya berat memampat.
2.7 Pengembangan Wilayah pulau Papua
Provinsi Papua memiliki kondisi topografi yang sangat bervariasi
dari daerah datar hingga daerah sangat curam. Sebagian besar wilayah Papua
termasuk daerah datar dengan kisaran kemiringan lahan 0 - 8% mencapai luasan ±
16,3 juta hektar (38,6%) dan diikuti dengan kemiringan lahan 15 -25% seluas ±
15,0 juta hektar (35,5%). Sedangkan 5,9% dari luas wilayah Papua adalah daerah
agak curam.
Wilayah yang didominasi daerah datar antara lain adalah Kabupaten
Merauke dan Kabupaten Mimika. Wilayah tersebut cukup cocok untuk dimanfaatkan
sebagai lahan pertanian dan perkebunan, serta penggunaan lahan lainnya yang
memerlukan persyaratan topografi datar. Sedangkan daerah pegunungan terutama
didominasi oleh Kabupaten Jayawijaya, kemudian Kabupaten Jayapura, Nabire,
Paniai dan Kabupaten Puncak Jaya. Daerah dengan topografi curam hinggan sangat
curam ini akan berdampak pada alokasi penggunaan lahan, dimana kondisi tersebut
tidak cocok dimanfaatkan untuk budidaya pertanian.
1.
Kondisi fisiografi pulau papua untuk pengembangan wilayah
Papua merupakan pulau yang kaya akan hutan, luas lahannya
sebagian besar wilayanhnya merupakan hutan yang belum dimanfaatkan secara
optimal, potensi yang dapat dikembangkan di daerah ini meliputi berbagai
kegiatan seperti kehutanan, pengembangan perkebunan, peternakan, perikanan
darat dan laut, dan pertambangan. Potensi sumbar daya mineral dan energi di
papua antara lain:manyak bumi, emas, tembaga, batubara, dan sejumlah mineral
lainnya. Papua menjadi pengeksport konsentrat terbesar. Salah satu perusahaan
yang terkenal adalah PT. Freeport di kabupaten Tinamika.
Teluk Cendrawasih merupakan kawasan andalan dikarenakan letaknya
yang strategis, infrastruktur yang memadai, dan potensi SDA yang kaya serta
merupakan pintu gerbang sebelah timur Indonesia. Perlu diketahui sebelumnya
bahwa terdapat dua pusat pertumbuhan di pulau ini. Yang mana keduanya terpisah
oleh pegunungan Jayawijaya. Kedua pusat tersebut adalah Biak di sebelah Utara
sebagai inti kawasan andalan Teluk Cendrawasih, dan Tinamika di sebelah Selatan
sebagai pusat pertumbuhannya.
Kabupaten Biak Numfor dicanangkan sebagai pusat pertumbuhan
untuk sector industri dan pariwisata. Kabupaten ini memiliki potensi wisata
yang beragam, pusat wisata alam (habitat flora dan fauna) khususnya keindahan
laut, taman laut insubabi, cagar alam pulau Supiori dan pulau Numfort serta air
panas di sunber air biru. Untuk sector industri di wilayah ini, direncanakan
pengembangan kawasan industri atau Eksport Processing Zone (ERZ) yang study
kelayakannya sudah rampung. Sektor kehutanan yang terletak di Kabupaten Yapen
Waropen berkembang dengan baik karena hutannya masih luas sekitar 1.950.500 ha
terdapat hutan produksi terbatas seluas 264.493 ha, dan hutan konversi 522.310
ha. Sisanya berupa hutan lindung seluas 503.343 ha, hutan PPA 65000 han dan
huta lainhhya 7.806 ha.
Kabupaten Manokwari memilii enam cagar alam dan tiga swaka
margasatwa. Selain potensi walayah tersebut terdapat sector pertambangan,
kehutanan, dan pertanian (tanaman pangan dan perkebunan). Potensi pertambangan
yang menonjol adalah minyak bumi di Bintuni; uranium dan granit di Anggi dan
Ransiki; mika di Wasior; dan timah putih di Rasinki.
Pengembangan wilayah di Papua juga dapat ditinjau dari beberapa
faktor diantaranya:
a.
Faktor Sumber Daya Wilayah
Sumberdaya wilayah yang dimaksud adalah sumberdaya lahan yang
terkait dengan fisik wilayah. Kiat manajemen atau pengelolaan yang berimbang
dan berkelanjutan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam peningkatan
produktivitasnya. Keberhasilan pengelolaan dengan berpijak pada kaidah
kelestarian lingkungan dan berkelanjutan akan dapat menjamin terhadap
meningkatnya masukan daerah yang telah lama dieksploitasi dengan tanpa
mempertimbangkan kelestarian secara optimal. Sebagaimana diketahui bersama
bahwa keaaan daerah saat ini telah mengalani banyak perubahan sebagai akibat
kurangnya pelibatan dan pemberdayaan masayarakat dalam melakukan pengambangan
di wilayah yang bersangkutan, sehingga dalam mengantisipasi terhadap pengaruh
negative berkepanjangan maka perlu segera diupayakan adanya sinkronisasi dan
peningkatan hubungan koordinasi dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat,
serta daerah dan pusat dalam rangka peningkatan potensi di wilayah yang bersangkutan.
b. Faktor Sumberdaya
Manusia
Manusia adalah kunci keberhasilan pembangunan. Sumberdaya
manusia merupakan kunci sukses dalam setiap pelaksanaan pembangunan baik dalam
skala kecil, menengah, maupun sedang. Dalam rangka peningkatan keberhasilan pelaksanaan
pembangunan tersebut maka diperlukan kualitas sumberdaya manusia yang memadai.
Peningkat kualitas yang dibarengi oleh peningkatan kualitas sumberdaya manusia
yang berkualitas di tingkat regional untuk masa-masa sekarang dan yang akan
datang perlu dilakukan dan perlu memperoleh perhatian yang serius dalan
penanganannya sehingga potensinya dapat dimanfaatkan secara baik dan benar.
Pembangunan regional bukanlah membangun fisik daerah semata-mata melainkan inti
pembangunan daerah adalah membangun sumberdaya manusia. Oleh sebab itu, dalam
pelaksanaannya, aspek pemberdayaan masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang
serius. Dalam rangka ini pula, diwajibkan kepada daerah untuk mempersiapkan
sarana dan prasarana pendukung bagi pengembangan suberdaya manusia dan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu memberikan dukungan terhadap
dilaksanakannya paradigma pembangunan berkelanjutan dan mampu membangun daerah
berdasarkan aspirasi daerah yang bersangkutan.
c. Faktor Kedudukan Geografis Letak wilayah secara geografis
Memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan wilayah
baik dari segi ekonomi budaya, social, politik dan fiskal . letak geoarafis
memiliki pengaruh pula terhadap letak strategis wilayah dalam berbagai aspek
kehidupan. Kedudukan strategis wilayah yang bersangkutan dan dapat menjadikan
wilayah tersebut sebagai salah satu pasar produksi pembangunan baik sektoral,
maupun nonsektoral dan bahkan mungkin dapat menjadi salah satu produsen handal
yang mampu memasok terhadap daerah lain disekitarnya, dengan demikian kedudukan
geografi memiliki peran yang penting dan dapat menjadi faktor pengaruh yang
kuat terhadap perkembangan wilayah yang bersangkutan dan sekitarnya.Di samping
itu, dengan letak geografi tersebut dapat dijadikan sebagai dasar setting
terhadap kegiatan yang prospektif di masa depan termasuk penentuan pola
konservasi dan preservasi serta pola eksploitasinya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam pembahasan mengenai geologi Papua maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Papua merupakan sebuah
pulau yang berasal dari pengendapan materi banua Australia selama berjuta-juta
tahun, pengendapan ini menghasilan tumpukan material yang tebal sehingga mampu
membentuk sebuah pulau seperti sekarang. Lempeng ausrtalia dengan lempeng
pasifik yang menyebabkan pengendapan yang terjadi sebelumnya terangkat
kepermukaan dari dasar lautpasifik yang ditemukan di Papua yang mengindikasikan
terjadinya pengangkatan dari dasar laut oleh tenaga endogen, dikenal
sebagai Orogenesa Melanesia.
2. Aktivitas tektonik penting
yang menjadi cikal bakal Papua saat ini terjadi
melalui beberapa tahap, yaitu:Pada Kala Oligosen
terjadi pergerakan tektonik besar pertama di Papua,yang
merupakan akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur
kepulauan berumur Eosen pada Lempeng Pasifik.
Peristiwa tektonik penting kedua
yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia yang
dimulai pada pertengahan Miosen yang diakibatkan oleh
adanya tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik.
3. Pembagian geologi
regional Papua berdasarkan pada tektonik, magmatic, dan
stratigrafinya, maka Papua dibagi menjadi 3 kawasan atau provinsi,
yaitu:
a. Kawasan Samudra
Utara yang dicirikan oleh adanya batuan ofiolit dan busur
vulkanik kepulauan sebagai bagian dari Lempeng Pasifik.
b. Kawasan Benua yang
dicirikan atas batuan sedimen yang menutupi batuan dasar
kontinen.
c. Lajur Peralihan yang
terdiri atas batuan yang termalihkan dan terdeformasi sangat kuat.
Lajur ini memisahkan Kawasan Benua dan Kawasan Samudra Utara.
4. Seting tektonik Papua
terdiri dari patahan, lipatan, maupun sesar-sesar sehingga di
wilayah Papua rentan akan terjadinya gempa bumi yang diikuti
enggan tsunami. Akibat dari tektonik yang katif, wilayah Papua kaya akan barang
tambah seperti timah, emas, bijih besi, dan lain-lain
yang dapat dimanfaatkan sebagai devisa negara.
5. Stratifigasi wilayah
Papua terdiri atas:
a. Paleozoic Basement
(Pre-Kambium Paleozoicum)
b. Sedimentasi Mesozoikum
hingga Senosoik
c. Sedimentasi Senosoik
Akhir
d. Kenozoikum
e. Miosen sampai
sekarang
f. Stratigrafi lempeng
pasif
g. Stratigrafi zona transisi
6. Peta Geologi Papua
yang disederhanakan, diketahui bahwa batuan yang terdapat di
Papua terdiri dari batuan beku, sedimen, dan
metamorf yang penyebarannya dapat diketahui
melalui peta.
7. Pengembangan wilayah
di Papua juga dapat ditinjau dari beberapa
faktor diantaranya:
faktor diantaranya:
a.
Faktor Sumber Daya Wilayah
b.
Faktor Sumberdaya Manusia
c.
Faktor Kedudukan Geografis Letak wilayah secara geografis
B. Saran
Kebanyakan Ilmuwan yang meneliti struktur geologi ataupun
tektonik di papua adalah berasal dari luar negeri sedangkan jarang ada ilmuwan
yang berasaldari Indonesia sendiri, barang-barang tambang di Indonesia pun
banyak dikelolaoleh bangsa-bangsa asing dan Indonesia sangat dirugikan maka
Indonesiaseharusnya, kembali mengkaji lebih dalam tentang struktur bumi Papua
sehinggakita dapat mengelola kekayaan alam kita sendiri terutama potensi alam
yang ada di bumi Papua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar